Penulis: Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.
Penyuluh Agama Islam KUA Tapaktuan
KABARACEHSELATAN.ID - Mudik menjelang Idul Fitri bukan sekadar perjalanan pulang kampung, tetapi perjalanan hati untuk kembali kepada fitrah. Hampir seluruh masyarakat Indonesia melakukannya, termasuk kami sekeluarga yang setiap tahun pulang ke Sumatera Barat. Tujuannya sederhana tapi dalam: menyambung silaturrahmi, memperkenalkan anak-anak kepada keluarga besar, dan menanamkan bahwa keluarga itu bukan cuma yang ada di rumah—tapi juga yang siap bertanya, “Kapan nambah lagi?”
Kadang belum sempat duduk, belum sempat minum, pertanyaan itu sudah datang lebih cepat dari azan maghrib!
Allah ﷻ berfirman:
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu… dan peliharalah hubungan silaturrahmi.” (QS. An-Nisa: 1)
Ayat ini mengingatkan bahwa silaturrahmi bukan sekadar tradisi, tapi perintah langsung dari Allah. Jadi, mudik itu bukan hanya “pulang kampung”, tapi juga “pulang ke perintah Tuhan”. Bahkan kalau dipikir-pikir, yang capek di jalan itu bukan cuma badan, tapi juga dompet —karena setiap singgah pasti ada saja yang “harus dibeli”, dari oleh-oleh sampai jajanan anak-anak.
Biasanya, di kampung halaman kami hanya berkumpul, menikmati indahnya alam Sumatera Barat, dan tentu saja “berjuang” menghadapi rendang, sate, dan gulai—yang kadang lebih berat dari ujian hidup .
Kadang niatnya cuma makan sedikit… tapi begitu lihat meja penuh, iman goyah. Perut bilang “cukup”, tapi mata bilang “masih bisa nambah”.
Belum lagi kalau sudah ada suara dari dapur: “Tambah lai, ndak enak kalau tamu makan saketek!”—akhirnya kita makan bukan karena lapar, tapi karena tidak enak hati!
Tapi tahun ini berbeda. Ada dua amanah yang datang—dan amanah itu tidak bisa ditolak, apalagi kalau datangnya bukan cuma dari manusia, tapi terasa seperti “undangan langit”.
Melalui sahabat lama, Fajrul Khairi, S.Pd.I., dan juga Abdul Malik, S.Hum., kami diberi kepercayaan menjadi penceramah di Mushalla At-Taqwa, Desa Jati Hilir, Kecamatan Pariaman Tengah, Kota Pariaman.
Kemudian, pada hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H, kami juga diamanahkan menjadi imam dan khatib di Masjid Raya Nurul Falah, Korong Duku, Nagari Kasang, Kabupaten Padang Pariaman.
Jujur, dua amanah ini terasa berat. Karena berbicara di hadapan jamaah itu bukan sekadar menyampaikan kata, tapi juga mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.
Apalagi jadi imam—kalau salah sedikit, makmum bisa langsung “melirik tajam”. Yang biasanya diam, tiba-tiba jadi ahli tajwid. Bahkan mungkin dalam hati mereka berkata, *“Ini imam baru pulang mudik atau baru belajar?”
Namun Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menguatkan bahwa amanah, sekecil apa pun, harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Tidak ada istilah “cuma jadi imam” atau “hanya ceramah biasa”. Semua akan diminta pertanggungjawabannya.
Bahkan kadang kita merasa belum pantas, tapi justru di situlah Allah sedang melatih kita—dari yang biasa jadi luar biasa, dari yang santai jadi penuh tanggung jawab.
Selain itu, Allah juga berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58)
Amanah ini menjadi pengingat bahwa perjalanan mudik tahun ini bukan hanya tentang silaturrahmi dan liburan, tetapi juga tentang pengabdian. Dari sekadar “penikmat rendang”, naik level jadi “penyampai pesan keimanan”.
Dari yang biasanya duduk santai di saf belakang, sekarang berdiri di depan—beda rasanya! Dulu dengar ceramah sambil mengangguk-ngangguk, sekarang yang ceramah berharap jamaah tidak mengangguk… karena mengantuk.
Akhirnya, kami berharap semua aktivitas ini menjadi sebab turunnya keberkahan—baik dalam keluarga maupun masyarakat. Semoga semangat Ramadhan yang telah kita jalani tidak berhenti saat takbir berkumandang, tetapi terus hidup dalam keseharian kita.
Karena sejatinya, yang pergi itu Ramadhan, tapi semangat ibadahnya jangan ikut “mudik dan tidak kembali”.
Jangan sampai yang kembali setelah lebaran hanya berat badan… sementara ibadahnya malah “hilang di jalan”.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba yang istiqomah dalam menjalankan syariat-Nya, di mana pun kita berada—di kampung halaman maupun di tanah perantauan.
Aamiin. [KAS]
Berita Terkait
Peringatan Nuzulul Qur’an dan Santunan Anak Yatim Gampong Hulu
16 Mar 2026
152 Keuchik Aceh Selatan Dilantik, Bupati Mirwan Tekankan Integritas dan Kepercayaan Masyarakat
12 Mar 2026
Pemkab Aceh Selatan Jadwalkan Penyerahan Ribuan SK PPPK PW di Lapangan Naga
11 Mar 2026
Apel Perdana Setelah Nonaktif, Bupati Aceh Selatan Tekankan Loyalitas ASN
10 Mar 2026