Plt. Kadistanbun Aceh Sebagai Penanggap Pada Forum Nasional

03 November 2026 18:43 WIB

Oleh Admin

WhatsApp Telegram Facebook
Plt. Kadistanbun Aceh  Sebagai Penanggap Pada Forum Nasional

KABARACEHSELATAN.ID | Berbicara para forum nasional, Azanuddin Kurnia menjelaskan tentang pentingnya kolaborasi untuk membangun Aceh dan juga Indonesia. Dipimpin Bapak Gubernur, saat ini Aceh sedang melakukan pemulihan pasca bencana yang sudah masuk pada tahap rehabilitasi dan rekontruksi pasca bencana.


Bila kita tidak membangun kolaborasi maka sulit untuk melakukan pemulihan dan melaksanakan program. Kolaborasi dengan Kementerian/Lembaga di Jakarta, Pemerintah Kabupaten/Kota, mitra pembangunan, dunia usaha, perguruan tinggi, media, dan tentu juga dengan masyarakat sebagai pelaku utama, ujar Azan bersemangat.


Kami berharap seluruh stakeholder dapat bahu membahu untuk terus bekerjasama dalam pembangunan kebun kelapa sawit berkelanjutan. Jangan rusak lingkungan, jangan bakar hutan, perambahan pada lahan hutan dan gambut serta Kawasan terlarang lainnya, ujar Azanuddin Kurnia Plt. Kadistanbun Aceh mengingatkan mengingatkan.


Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP, MP, IPU, ASEAN Eng menyatakan bahwa kolaborasi para pihak merupakan salah satu kunci sukses dalam menjalankan program. Hal tersebut disampaikan oleh Azanuddin Kurnia ketika menjadi salah satu pemberi masukan dan arahan serta menjadi salah satu penanggap dalam acara Forum Bisnis Lanskap Edidi II dengan Tema “Pembelajaran dari Lapangan ; Mengubah Resiko Lanskap Menjadi Aksi Berdampak untuk Rantai Pasok yang Bertanggung Jawab”.



Sesuai amanah dan program dari Bapak Gubernur Aceh Muzakir Manaf dan Wakil Gubernur Fadhullah, Pemerintah Aceh saat ini sedang melakukan Penataan Hak Guna Usaha. Penataan ini bertujuan untuk membenahi tata kelola perizinan agar investasi berjalan dengan baik, aman, nyaman bagi pengusaha dan masyarakat lokal juga bisa mendapatkan hak-hak nya secara adil serta pemerintah juga bisa mendapatkan sumber pemasukan baik untuk daerah maupun untuk negara.


Penataan ini merupakan kolaborasi antara Pemerintah Aceh dengan Kementerian ATR/BPN.

Selain itu, kegiatan seperti plasma, CSR dan pendampingan oleh perusahaan kepada masyarakat tetap harus dijalankan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Program peremajaan sawit rakyat, pembuatan STDB (Surat Tanda Daftar Budidaya), Penilaian Usaha Perkebunan (PUP) dan bahkan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil/Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelnajutan Indonesia), harga TBS yang adil tetap harus dijalankan.


Hal terpenting lainnya adalah pemberdayaan masyarakat baik melalui fasilitasi kebun mereka, pelatihan, dan berbagai kegiatan produktif lainnya secara beriringan harus tetap dijalankan, ujar Azan dihadapan peserta yang berasal dari Aceh, Riau, Kalimantan, Jakarta dan lainnya. Peserta ada juga dari buyer brands Eropa dan kalangan Mitra Pembangunan seperti Eartworm Fondations, Swisscontac, WRI, IDH, Deameter, Forum Kakao Aceh (FKA) dan masih banyak lainnya.


Saat ini sudah 20 perusahaan yang dilakukan penataan dan sudah masuk pada tahap analisis. Kemudian akan ada belasan perusahaan lagi yang akan dikunjungi untuk survey ke lapangan. Selain itu ada sekitar 14.241 pekebun dengan jumlah kebun 17.710 dengan luasan sekitar 16.571,86 ha yang sudah kita lakukan e-STDB se Aceh. Terdiri dari komoditi Kelapa sawit, Kakao, Kopi, Karet, Kelapa Dalam dan Cengkeh.


Kepada masyarakat lokal dan masyarakat adat, Azanuddin Kurnia memberikan apresiasi atas berbagai upaya mereka dalam menjaga hutan dan melakukan pengelolaan kebun sesuai dengan peraturan yang berlaku. Alam ini adalah pinjaman anak cucu kita maka harus kita kembali dengan keadaan baik kepada generasi setelah kita. Apresiasi juga diberikan kepada seluruh mitra pembangunan yang selama ini sudah bekerja sama dan bekerja di Aceh.


Sebelumnya Eriko mewakili Eartworm Fondations dan Konsorsium Lueser Alas Singkil River basin menyatakan bahwa pertemuan ini adalah mencoba menyatukan pendapat dari fakta lapangan untuk bisa menjadi aksi nyata. Apa yang sudah dilakukan oleh para petani dan pekebun, pihak perusahaan, pemerintah daerah dan juga pengusaha merupakan modal besar bila bisa berjalan bersama.


Kami dari mitra pembangunan akan terus berusaha berkolaborasi dengan para pihak untuk menciptakan iklim investasi yang ramah lingkungan dan bermanafaat bagi semua, ujar Eriko pada sambutannya.

Acara yang berlangsung di Ozone Hotel PIK Jakarta pada Senin Tanggal 2 November dibagi menjadi dua sesi. pada sesi pertama menghadirkan pembicara dari kelompok wanita tani dari Aceh Singkil, Mukim dari Subulussalam, PT Laot Bangko dan juga dari Dinas Perkebunan Singkil.


Pada sesi kedua dengan topik membangun kolaborasi dari lokal bisa berdampak global. Pada sesi ini umumnya pembicara dari kalangan pengusaha sawit, para buyer luar negeri dan juga dari mitra pembangunan. Pada kedua sesi tersebut, Plt. Kadistanbun diberi kesempatan terhormat untuk tetap memberikan masukan dan tanggapan terhadap apa yang sudah dijalankan oleh para pihak serta memberikan beberapa arahan dalam pertemuan tersebut. [KAS]


#kabaracehselatan

Pasang iklan Anda di sini
Jangkau ribuan pembaca Kabar Aceh Selatan
Hubungi: 0895-3115-5646
POST INLINE

Berita Terkait